
Magelang Pos – Kementerian Kebudayaan Indonesia, melalui Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, berupaya memperkenalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) kepada pelajar di Provinsi Sumatera Barat. Hal ini dilakukan dengan mengembangkan modul pembelajaran yang bertujuan untuk menanamkan nilai budaya dan pembentukan karakter melalui jalur pendidikan, serta memperkuat ekosistem WTBOS sebagai warisan dunia.
Menurut Ketua Tim Kerja WTBOS Kementerian Kebudayaan, Yayuk Sri Budi Rahayu, penguatan nilai-nilai ini melalui pendidikan sangat penting. Ia menjelaskan bahwa untuk memastikan keberlanjutan dan pemahaman terhadap WTBOS, perlu ada upaya penanaman nilai dan karakter yang sesuai dengan kearifan lokal. Modul pembelajaran yang dirancang akan dimasukkan dalam program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang mengedepankan kekayaan budaya lokal.
Sebelum modul ini diterapkan secara luas, Kementerian Kebudayaan telah melakukan uji coba di dua sekolah, yaitu SMAN 1 Solok dan SMAN 1 Sumatera Barat. Dari hasil uji coba tersebut, evaluasi menunjukkan bahwa modul ini sudah siap diterapkan dalam pembelajaran di sekolah. Dengan demikian, diharapkan modul ini dapat menjadi sarana yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai budaya kepada peserta didik, serta mendukung pembentukan karakter berbasis kearifan lokal.
Modul ajar ini nantinya akan diserahkan kepada Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat untuk dimasukkan ke dalam kurikulum mata pelajaran di sekolah-sekolah. Penyerahan ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem WTBOS sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang perlu dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi muda.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Barlius, menyatakan bahwa sebelum modul WTBOS diajarkan kepada pelajar, modul ini terlebih dahulu akan diserahkan kepada Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). MGMP akan bertugas untuk menetapkan teknis dan cara pengajaran modul tersebut, sehingga materi dapat diterima dengan baik oleh para peserta didik. Barlius juga mengungkapkan bahwa modul ini dapat diintegrasikan dengan berbagai mata pelajaran, seperti Sejarah, Sosiologi, dan Pendidikan Pancasila, yang relevan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam WTBOS.
Menurut Barlius, pengintegrasian modul ini ke dalam beberapa mata pelajaran diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang lebih mendalam tentang WTBOS kepada pelajar, serta mengembangkan pemahaman mereka terhadap pentingnya pelestarian warisan budaya. Dengan cara ini, anak didik tidak hanya mengenal sejarah dan budaya lokal, tetapi juga menyadari pentingnya menjaga dan melestarikan warisan dunia seperti WTBOS.
Ke depannya, modul WTBOS ini diharapkan tidak hanya bermanfaat untuk pelajar, tetapi juga menjadi alat untuk memperkenalkan dan mempertahankan nilai-nilai budaya yang ada di Sumatera Barat. Melalui pendidikan yang berbasis pada kekayaan budaya lokal, generasi muda diharapkan dapat lebih menghargai dan melestarikan warisan sejarah yang ada, serta menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Dengan program ini, Kementerian Kebudayaan berharap dapat melibatkan lebih banyak elemen masyarakat dalam upaya pelestarian warisan budaya, serta memperkuat jati diri bangsa melalui pendidikan yang berorientasi pada nilai-nilai luhur budaya lokal.